PARTENOGENESIS


Dari Artikel National Geographic Indonesia mengenai Ular Boa yang bertelur tanpa pejantan. Banyak dari peserta didik kami yang bertanya mengenai partenogenesis. Berikut adalah hasil surfing kami mengenai Partenogenesis, mudah-mudahan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

—-admin—-

Partenogenesis (dari bahasa Yunani παρθένος parthenos, “virgin”, + γένεσις genesis, “pembuatan”) merupakan pertumbuhan dan perkembangan embrio atau biji tanpa fertilisasi oleh pejantan. Partenogenesis terjadi secara alami pada beberapa spesies, termasuk tumbuhan tingkat rendah, invertebrata (contoh kutu air, kutu daun, dan beberapa lebah), dan vertebrata (contoh beberapa reptil, ikan, dan, sangat langka, burung, dan hiu)

Partenogenesis adalah bentuk reproduksi aseksual di mana betina memproduksi sel telur yang berkembang tanpa melalui proses fertilisasi. Partenogenesis dapat kita lihat pada kutu daun, lebah, kutu air, dan beberapa invertebrata lainnya, juga pada beberapa tumbuhan. Komodo dan hiu ternyata juga mampu bereproduksi secara partenogenesis, bersama dengan beberapa genera ikan, amfibi, dan reptil – yang telah menunjukkan bentuk reproduksi aseksual yang berbeda, termasuk partenogenesis sejati, gynogenesis, dan hybridogenesis (bentuk tidak sempurna dari partenogenesis).

Pergiliran antara partenogenesis dan reproduksi seksual disebut heterogami. Bentuk reproduksi yang berkaitan dengan partenogenesis tetapi membutuhkan sperma disebut dengan ginogenesis dan hybridogenesis.

Ginogenesis

Bentuk reproduksi aseksual yang berhubungan dengan partenogenesis adalah ginogenesis. Keturunan dihasilkan dengan mekanisme yang sama seperti pada partenogenesis, tetapi dengan ketentuan sel telur harus distilmulasi dengan keberadaan sperma sehingga dapat berkembang. Bagaimanapun juga, sel sperma tidak memberikan kontribusi material genetik apapun kepada hasil keturunan.

Hibridogenesis

Dalam reproduksi hybridogenesis reproduksi tidak benar-benar aseksual melainkan hemiclonal

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Partenogenesis

 

Sistem Reproduksi Invertebrata

Diarsipkan di bawah: Sistem reproduksi — gurungeblog @ 6:16 am
Tags: , , ,

Reproduksi Aseksual
Reproduksi aseksual pada hewan lebih jarang terjadi daripada tumbuhan. Biasanya reproduksi aseksual merupakan suatu alternatif dan bukan pengganti dari reproduksi seksual. Beberapa invertebrata,  misalnya jenis cacing pipih (Planaria) berkembang biak dengan cara fragmentasi. Fragmentasi merupakan pemutusan bagian tubuh. Setelah tumbuh mencapai ukuran yang normal, Planaria secara spontan terbagi-bagi menjadi beberapa bagian. Setiap bagian berkembang menjadi dewasa dan proses tersebut akan terulang kembali.
Invertebrata lain melakukan melakukan reproduksi aseksual dengan cara pertunasan (budding). Pertunasan merupakan proses terbentuknya tunas kecil (yang serupa dengan induknya) dari tubuh induk.
Keturunan berkembang sebagai tunas pada badan induk. Pada beberapa spesies, seperti pada Obelia, tunas tersebut lepas dan hidup bebas. Pada spesies lain, misalnya koral atau anemon laut, tunas tersebut tetap terikat pada induk hingga menyebabkan terjadinya koloni koral.
Pertunasan juga dijumpai pada hewan parasit, contohnya cacing pita (Taenia solium). Daging babi yang kurang matang dapat mengandung sistiserkus termakan dari cacing pita, yang terdiri dari suatu kapsul yang mengandung skoleks. Bila sistiserkus termakan, getah lambung akan melarutkan dinding kapsul sehingga skoleks keluar dan melekatkan diri dengan alat penghisap dan kait, pada dinding usus. Skoleks kemudian membuat tunas-tunas (proglotid) pada ujung belakangnya. Tunas-tunas ini tetap terikat satu sama lain. Setelah dewasa proglotid mengembangkan alat kelamin. Proglotid yang paling tua akhirnya lepas dan keluar bersama kotoran. Namun, sebelum hal ini terjadi, rantai tersebut dapat mencapai panjang 6 meter dan mengandung lebih dari 1000 proglotid, dimana tiap proglotid merupakan individu yang
dapat berdiri sendiri.
Beberapa spesies invertebrata yang tingkatannya lebih tinggi berkembang biak dengan cara partenogenesis. Partenogenesis merupakan telur yang dihasilkan oleh hewan betina yang berkembang menjadi individu baru tanpa dibuahi, contohnya serangga. Pada beberapa kasus, partenogenesis merupakan satu-satunya cara yang dapat dilakukan hewan tertentu untuk berkembang biak. Tetapi pada umumnya

hewan tersebut melakukan partogenesis pada waktu tertentu, seperti yang dilakukan oleh Aphid (kutu daun) melakukan partenogenesis pada musim ketika banyak terdapat sumber makanan di sekelilingnya.

Reproduksi secara partenogenesis lebih cepat daripada reproduksi secara seksual, hal ini memungkinkan jenis tersebut untuk memanfaatkan sumber makanan yang tersedia dengan cepat.

Reproduksi Seksual
Sebagian besar invertebrata melakukan reproduksi secara seksual. Reproduksi seksual dicirikan dengan penyatuan gamet (fertilisasi), yaitu sperma dan ovum. Fertilisasi pada invertebrata sering dijumpai pada cacing tanah yang bersifat hermafrodit (satu individu menghasilkan sperma dan ovum). Meskipun hermafrodit, cacing tanah tidak dapat melakukan fertilisasi sendiri, melainkan dengan pasangan cacing tanah lainnya.

Sumber : http://gurungeblog.wordpress.com/2008/10/31/sistem-reproduksi-invertebrata/

 

Beberapa artikel lain yang berhubungan dengan Partenogenesis :

http://prestasiherfen.blogspot.com/2010_02_01_archive.html

http://cilifertigasi-habenariagrow.blogspot.com/

http://www.youtube.com/watch?v=Kqy1bP4RK9g

Tentang MOEJIE

Guru Biologi
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

6 Balasan ke PARTENOGENESIS

  1. Blog Keluarga berkata:

    duh pak… isinya kepanjangan tuch…. agak sulit menarik perhatian siswa. coba dibuat lebih singkat dan disisipin gambar biar lebih menarik. kalau bisa ada peta konsep mengenai materi-materi yang di ajarkan. jangan lupa kunjungan baliknya yach….

  2. endrinur berkata:

    apakah ayam negeri ( petelur ) termasuk partenogesis..? dapatkah telurnya menetas menjadi individu baru, padahal telurnya tidak dibuahi.

    • MOEJIE berkata:

      Thanks ya atas pertanyaannya…
      Ayam ras petelur jika ingin kita katakan sebagai salah satu contoh dari Partenogenesis saya rasa kurang tepat, walaupun salah satu konsep dasarnya terpenuhi. Salah satu hal dasar yang juga menjadi konsep dari partenogenesis adalah terbentuknya Individu baru dari proses tersebut yang tidak dapat terjadi pada telur ayam dari ras ini (ini jika yang dimaksudkan adalah telur ayam yang banyak kita temukan di pasar), karena memang telur-telur tidak dapat menjadi Individu baru.
      Telur ayam ras ini terbentuk karena perlakuan-perlakuan dari luar seperti :
      1. Pengaturan Cahaya
      2. Pemberian Hormon
      3. Siklus Bertelur
      4. Pengaturan rasio Pakan
      Terima kasih….

  3. irwan goma larope berkata:

    maav pak,, saya mau tanya kalau aktivator telur pada ikan biasanya menggunakan apa?
    untuk bahanya kira2 didapatkan di mana yah?

  4. Alexis berkata:

    Maaf, cara kerja partenogenesis pada komodo gimana ya?

Biasakan berkomentar gan....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s